Kiai Marogan
Kiai Marogan yang dikenal merupakan ulama pelopor dakwah di Kota Palembang dan daerah Sumatera Selatan
Wisuda Tahfidz Al Quran santri Sumsel
176 santri tahfidz sumsel yang menghapal Al Quran diwisuda dan dihadiri oleh Mantan Imam Madinah Syeh Ali, Ketua DPR Marzuki Alie, dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin
Rumah Tahfidz Kiai Marogan
Salah satu tempat yang membina para penghafal Al-Qur’an di Metropolis yakni Rumah Tahfiz Ki Marogan, lokasinya di belakang Masjid Kiayi Merogan
Para Ustadz
Para ustadz dengan pengabdian penuh untuk dakwah.

Voucher Wakaf

 

Login Anggota

Statistik Kunjungan

000172568
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Akhir Minggu
Bulan ini
Akhir bulan
Total
103
90
1635
1635
4546
5998
172568

13.64%
9.75%
7.20%
0.80%
0.24%
68.36%
Online (15 menit yg lalu):18
18 tamu
tak ada anggota

IP Anda:54.145.83.79

Melongok Beberapa Tempat Menghafal Al-Qur’an Di Metropolis (Bag. 1)

 Salah satu tempat yang membina para penghafal Al-Qur’an di Metropolis yakni Rumah Tahfiz Ki Marogan, lokasinya di belakang Masjid Kiayi Merogan. Tempat satu ini satu dari 30 rumah tahfiz yang ada di Sumsel, yang di koordinatori Ustadz Masagus Fauzan Yayan. Seperti apa akptivitas di sana?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Rian & Diah – Palembang

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Alunan suara merdu orang membaca Al-Qur’an terdengar sayup-sayup dari lantai dua rumah tahfiz tersebut saat koran ini berkunjung ke sana, Minngu malam (24/3), sekitar pukul 20.00 WIB. Tampak Al-Qur’an dan buku Iqra’ berjejer rapi di dalam rak yang terletak pada salah satu sudut di ruang tamu rumah berlantai dua itu.

Tak jauh dari rak tersebut, ada beberapa meja dengan sebuah komputer dan tiga tempat duduk serta beberapa kursi kecil yang mengelilingi meja. Seorang lelaki yang berperawakan sederhana menggunakan peci muncul dan menyapa wartawan koran ini. Dia Masagus Fauzan Yayan, koordinator Rumah Tahfi Sumsel.

“Silakan masuk, ada yang bisa dibantu,” katanya, ramah. Dengan gaya bicara yang bijak dan santun, ia menceritakan banyak hal tentang rumah tahfiz Ki Marogan yang dikelolanya saat ini.

“Total santri dan santriwati di sini sekitar 50 orang,” ucap Ustadz Yayan, begitu ia disapa. Rumah tahfiz di belakang Masjid Ki Marogan ini merupakan bagian dari total 30 rumah tahfiz yang tersebar di Sumsel. Terbanyak memang di Palembang, jumlah tempat untuk menggembleng para penghafal Al-Qur’an itu berjumlah 24 buah.

“Terdapat sekitar 250 santri yang sedang belajar,” kata suami dari Ummi Kholifah itu. Menurut ayah dari dua orang anak tersebut, dibentuknya tempat khusus bagi para penghafal Al-Qur’an tidak lain untuk mewujudkan visi besar Ustadz Yusuf Mansyur yang bercita-cita mencetak 100 ribu hafiz se-Indonesia, bahkan kalau mungkin se-mancanegara.

“Rumah tahfiz ini tergabung dalam Forum Rumah Tahfiz sejak 2010 lalu,” katanya. Santri yang berada di rumah tahfiz Ki Marogan rata-rata berasal dari kaum dhuafa dan anak yatim di Sumsel. Pihaknya di-support langsung Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumsel. “Para santri tinggal di sini semua,” jelas pria kelahiran Palembang 20 Agustus 1981 ini.

Dibeberkannya, rumah tahfiz difokuskan untuk membimbing anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dipilihnya mereka lantaran dinilai masih memiliki daya ingat yang baik dan dapat diandalkan. “Semakin cepat hafal, maka akan semakin baik. Ke depan tinggal memperdalam ilmu yang lain,” tuturnya sembari mentatakan pihaknya bereksperimen untuk membidik anak TK.

Kalau orang tua menghafal Al-Qur’an itu biasa, tapi kalau anak-anak itu luar biasa,” cetus Ustadz Yayan. Para santri tidak dipaksa untuk menyelesaikan hafalan secara tepat. Terpenting, anak-anak tersebut dapat mengamalkan apa yang mereka hafal dalam kehidupan sehari-hari. “Ada yang bisa menghafal cepat, sudah selesai sejak tamat SD. Tapi ada juga yang hingga SMA,” bebernya.

Kegiatan menghafal Al-Qur’an dilakukan usai para santri shalat wajib lima waktu tiap harinya. 10 santri minimal dibimbing 1-2 ustadz atau ustadzah. “Kita tidak berikan mereka target yang terlalu membebani. Paling sehari hanya diharuskan hafal 1-5 ayat,” ungkapnya.

Aktivitas menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an telah dimulai ba’da Subuh. Setelah itu, mereka bersia-siap ke sekolah. Usai pulang sekolah, mereka kembali menghafal, tepatnya setelah shalat Dzuhur, barulah kemudian beristirahat. Setelah Ashar, para santri kembali mengulang kembali hafalan.

“Nah, usai Maghrib, kegiatan membaca dan memperbaiki kesalahan hafalan hingga jelang Isya. Setelah shalat Isya, mereka diberikan kelonggaran ntuk melakukan kegiatan sendiri seperti mengerjakan tugas sekolah dan yang lainya,” tutur anak keenam dari tujuh bersaudara ini.

Ustadz Yayan, para santri akan diwisuda setelah mampu menghafal 1 juz. Mereka berpeluang mengenyam ilmu lebih tinggi ke Darul Qur’an di bawah binaan Ustadz Yusuf Mansyur. “Jika memang berpotensi, akan kita antar ke sana. Saat ini, sudah ada dua santri kita yang bergabung,” pungkasnya.

Selain menghafal Al-Qur’an, para santri dan santriwati juga diajari bahasa Inggris. Tak heran, saat koran ini berkunjung beberapa hari lalu, mendapati mereka sedang belajar bahasa Inggris. “I, Me, You, Are…..” ucap salah seorang santriwati. Untuk diketahui, beberapa santriwati di sana sudah ada yang mampu menghafal 5-6 juz Al-Qur’an. “Ya, anak-anak disini juga diajarkan bahasa Inggris, biar seimbang,” tambah Ummi Kholifah. (*/ce3)

Sumatera Ekspres, Rabu, 27 Maret 2013

Rumah Cinta Quran

Update Hafalan Santri

Pengunjung Online

Kami memiliki 18 tamu dan tidak ada anggota online

Berita Terbaru

Galeri Foto